Postingan

Menampilkan postingan dari 2018
Wajah yang Tak Sama Aku mematung di hadapan wajahku yang tersenyum, Hanya kanal air mata yang terlukis padanya, Melukiskan betapa indahnya perlombaan ini, Untuk mencari siapa yang memiliki wajah terbanyak, Bukan aku tak mau bersaing, Hanya aku tak punya banyak cara, Mungkin hanya berkedok topeng ini ku bisa bertahan, Hingga ku tak mengenali siapa sosok yang di depanku, Aku pun menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca, menyibak gelapnya relung hati ini, yang terduduk manis di sudut kesendiran, seakan dia ingin berkata " Tolong! Bebaskan! " Aku hanya bisa melihat tanpa bisa meraihnya, Ku coba untuk membangunkan pikiranku, Agar ku dapat menciptakan sekuncup bunga api, Tapi hujan es di sekitarnya mampu melayukannya, Aku mulai merintih dikala kupandangi wajahku kembali, Pucat pasi kini tergambarkan dirautnya, karena dinginnya ruang mulai menusuk, dan ribuan wajah mulai terpajang, Raut wajah itu penuh dengan persaingan Dan mereka mulai saling mencibir ...
BERTAMU DI RUMAH SENDIRI Langit tersenyum menyapa kesibukanku, Mentari membakar setiap langkah kecilku, Panas terik menghanguskan tetesan keringatku, Tapi awan gelap menari diatas rambut ini, Aku tak mendengar apa katanya, Aku tak melihat apa maunya, Aku tak mencium apa baunya, Aku tak merasakan apa bentuknya, Hari ini adalah tahun ini, Lalu adalah tahun sebelum ini, Dulu adalah tahun tahun silam, dan Apakah esok adalah tahun depan? Jiwa itu datang kembali, Datang bertamu bersama kebingungan, Aku tak pernah siap untuk menjadi tuan rumahnya, Hingga aku selalu merasa bimbang, Apa ini jalan yang Engkau pilihkan? Apa ini yang harus aku rasakan? Apa hanya aku yang tau akan keadaan ini? Apa ada orang lain yang sama denganku? Mungkin aku bukan rekan yang pantas, Hingga dia menolak hidup bersama, Dia enggan bercerita akan apa maunya, Dia bersembunyi dibalik kebingungannya,
Hitam Putih HITAM tak selamanya kelam, PUTIH tak selamanya suci, LELAH bukan berarti menyerah, DIAM bukan berarti tak mau, DIAM-ku karna LELAH, LELAH karna tersesat dalam ruang PUTIH, PUTIH yang penuh ke-HITAM-an, Mulut ini bukan tak pandai bersyukur, Hanya hati yang lelah menerima, Otak yang selalu menginginkan PUTIH, Tapi mata melihat ke-HITAM-annya, Izinkan aku terdiam sejenak dalam LELAH, LELAH akan keberadaan ruang ini, agar aku dapat melihat kamuflase HITAM sehingga aku dapat menerima PUTIH kembali. aku tau.. tak akan ada PUTIH bila tak ada HITAM, dan tak akan ada HITAM bila tak ada PUTIH, itulah sebuah petuah sang penghibur, salahkah aku bila ku LELAH? bolehkah aku untuk DIAM? aku bertahan dalam PUTIH, tapi HITAM selalu datang Aku diam... Karena otak ini merasa bingung Karena hati yang lelah tersenyum Karena jiwa yang mulai kehilangan arah Ku pikir PUTIH akan selalu jelas Tapi HITAM tak mau mengalah Namu...
DEWASA Tuhan, Izinkan aku untuk berkhayal, Izinkan aku untuk memandang yang tak pasti, Izinkan aku memimpikan takdirku sendiri, Aku tau, Aku hanya seonggok daging yang bernafas, Aku hanya lakon kehidupan Aku hanya pengikut aliran waktu yang bergulir Sempat aku berfikir, d alam lamunan yang tak pasti Akankah aku beranjak dewasa ? Dikala dewasa itu menyakitkan, Tak pernah terpikirkan olehku untuk dewasa , Karena dewasa merupakan lambang ke sendirian, Bukan hati yang membukakannya, Tapi emosi dan ambisi yang menuntunnya, Keegoisan menyelimutin jalannya Kilah kebaikanlah yang akan terus menjadi