Wajah yang Tak Sama
Aku mematung di hadapan wajahku yang tersenyum,
Hanya kanal air mata yang terlukis padanya,
Melukiskan betapa indahnya perlombaan ini,
Untuk mencari siapa yang memiliki wajah terbanyak,
Bukan aku tak mau bersaing,
Hanya aku tak punya banyak cara,
Mungkin hanya berkedok topeng ini ku bisa bertahan,
Hingga ku tak mengenali siapa sosok yang di depanku,
Aku pun menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca,
menyibak gelapnya relung hati ini,
yang terduduk manis di sudut kesendiran,
seakan dia ingin berkata "Tolong! Bebaskan!"
Aku hanya bisa melihat tanpa bisa meraihnya,
Ku coba untuk membangunkan pikiranku,
Agar ku dapat menciptakan sekuncup bunga api,
Tapi hujan es di sekitarnya mampu melayukannya,
Aku mulai merintih dikala kupandangi wajahku kembali,
Pucat pasi kini tergambarkan dirautnya,
karena dinginnya ruang mulai menusuk,
dan ribuan wajah mulai terpajang,
Raut wajah itu penuh dengan persaingan
Dan mereka mulai saling mencibir dan berubah,
Agar mereka selalu ditatap manis,
Tanpa memikirkan bagaimana bentuk aslinya,
Aku tak kuasa,
Ingin ku menyerah dari perlombaan ini,
Tapi aku bukan pecundang,
Aku harus bertahan walau goresan luka hati menyayat
Walau ku hanya berkedok topeng senyum
Aku yakin mampu tersenyum,
Walau ku tak mengenali siapa aku
Aku yakin mampu untuk mengenalnya
Inilah awal dari semuanya,
Aku hanya berharap wajah ini tak pernah berubah,
Selalu tersenyum dan menunjukan siapa aku,
Karena semuanya punya alamat yang tepat.
Aku mematung di hadapan wajahku yang tersenyum,
Hanya kanal air mata yang terlukis padanya,
Melukiskan betapa indahnya perlombaan ini,
Untuk mencari siapa yang memiliki wajah terbanyak,
Bukan aku tak mau bersaing,
Hanya aku tak punya banyak cara,
Mungkin hanya berkedok topeng ini ku bisa bertahan,
Hingga ku tak mengenali siapa sosok yang di depanku,
Aku pun menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca,
menyibak gelapnya relung hati ini,
yang terduduk manis di sudut kesendiran,
seakan dia ingin berkata "Tolong! Bebaskan!"
Aku hanya bisa melihat tanpa bisa meraihnya,
Ku coba untuk membangunkan pikiranku,
Agar ku dapat menciptakan sekuncup bunga api,
Tapi hujan es di sekitarnya mampu melayukannya,
Aku mulai merintih dikala kupandangi wajahku kembali,
Pucat pasi kini tergambarkan dirautnya,
karena dinginnya ruang mulai menusuk,
dan ribuan wajah mulai terpajang,
Raut wajah itu penuh dengan persaingan
Dan mereka mulai saling mencibir dan berubah,
Agar mereka selalu ditatap manis,
Tanpa memikirkan bagaimana bentuk aslinya,
Aku tak kuasa,
Ingin ku menyerah dari perlombaan ini,
Tapi aku bukan pecundang,
Aku harus bertahan walau goresan luka hati menyayat
Walau ku hanya berkedok topeng senyum
Aku yakin mampu tersenyum,
Walau ku tak mengenali siapa aku
Aku yakin mampu untuk mengenalnya
Inilah awal dari semuanya,
Aku hanya berharap wajah ini tak pernah berubah,
Selalu tersenyum dan menunjukan siapa aku,
Karena semuanya punya alamat yang tepat.
Komentar
Posting Komentar